Berbekal Kekompakan, Masyarakat Kompleks Taman Rafflesia Berhasil Ubah Lingkungan Menjadi Bersih

Sebelum 2019, wajah Kompleks Taman Rafflesia muram. Sejumlah warga membuang sampah sembarangan di lahan kosong.
Sampah yang menumpuk kemudian dihilangkan dengan cara dibakar sehingga menimbulkan polusi udara. Kondisi tersebut pun memicu konflik antarwarga.
Tak tinggal diam melihat hal itu, Ketua RW 14 Sukapura Ana Meilina bergerak mengatasi masalah sampah. Langkahnya diawali dengan mempelajari cara pengolahan sampah dan mentrasfer ilmu tersebut kepada warga.
Pada awalnya, hanya belasan warga yang tergerak mengolah sampah. Namun, Ana tidak menyerah. Dengan sabar, ia mengedukasi warga tentang pengolahan sampah dan memberikan ember sebagai tempat pembuangan sampah organik. Sementara, sampah anorganik dan sampah residu terpilah di tempat berbeda.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang mengikuti jejak Ana mengolah sampah. Bahkan, ketika tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Sarimukti kebakaran pada 2023, pengolahan sampah dilaksanakan secara masif oleh masyarakat.
Sistem pengolahan sampah di Kompleks Taman Rafflesia dimulai dari proses pemilahan sampah di rumah warga. Sampah dipilah antara organik, anorganik dan residu.
“Saya tempelin stiker di rumah warga yang sudah milah sampah. Bagi rumah yang belum ada stiker, sampah tak diangkut oleh petugas kebersihan,” kata Ana di Kompleks Taman Rafflesia, Senin (8/9/2025).
Setelah dipilah, sampah kemudian diolah. Sejumlah warga mengolah sendiri sampah organik di rumah. Ana menggunakan teknik “Kang Empos” dalam mengolah sampah organik dengan menggunakan karung, ember, kompos.
Menjadi taman
Bagi warga yang belum mengompos sendiri, sampah organik dibawa oleh petugas kebersihan, lalu diolah di tempat khusus di dalam komplek. Pengolahan sampah dilakukan dengan mencampurkan sampah organik dengan sampah daun di dalam bak.
Campuran itu didiamkan selama 1,5 bulan hingga menghasilkan kompos. Sebagian kompos dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman, sedangkan sebagian lain dijual. Uang hasil penjualan digunakan untuk biaya operasional pengolahan sampah.
Adapun, sampah anorganik dijual ke bank sampah dan pengepul. Tersisa sampah residu yang dibuang ke tempat pembuangan sementara.
Konsistensi pengolahan sampah selama enam tahun menghasilkan kondisi komplek yang berbeda dari sebelumnya. Lahan kosong kini tak lagi menjadi tempat pembuangan sampah, melainkan telah berubah menjadi taman.
Berbagai bunga dan sayuran tumbuh subur di taman. Di salah satu sudut taman terdapat sarang lebah. Hewan tersebut berfungsi untuk menjaga keberlangsungan kehidupan bunga-bunga yang tumbuh subur di taman.
Taman juga menjadi tempat berkumpul warga.
Salah seorang warga Rita menuturkan, setelah masyarakat kompak mengolah sampah, lingkungan menjadi nyaman.
“Hasil pengolahan sampah juga bisa dijual, beberapa rumah tangga mengolah sisa buah dibuat kompos dan MOL (mikro organisme lokal),” ujar Rita.
Ia yakin, upaya menjaga kebersihan di Kompleks Taman Rafflesia akan berkelanjutan. Hal itu karena para remaja setempat telah dilatih mengolah sampah sehingga masa kelam Kompleks Taman Rafflesia tak akan terulang.*
No Comment