Hebat, Siswa SMA Berhasil Mengolah Sampah Tulang Ayam Jadi Beton

Ketiga siwa itu yakni Mochammad Zahran Alfathin Mulkan, Viandra Satriya Hutomo dan Muhammad Haikal Alqory. Semuanya duduk di kelas XI. Dalam membuat inovasi, para siswa dibimbing oleh guru biologi Siti Maisaroh.
Pengamatan para siswa terhadap banyaknya sampah tulang ayam sisa makan siang di kantin sekolah menjadi awal inovasi mereka. Setiap hari, siswa mendapat makan siang dari pihak sekolah.
Ketiga siswa dan guru kemudian meneliti kandungan tulang ayam. Ternyata, tulang ayam diketahui mengandung kalsium karbonat yang biasa terdapat di batu kapur. Batu tersebut merupakan salah satu komponen pembuat beton.
“Kandungan kalsium karbonat dalam batu kapur sebesar 76 persen, sedangkan tulang ayam 47 persen,” kata Alfathin di SMA Pribadi Bandung, Kamis (24/7/2025).
Dari pengetahuan itu, para siswa dan guru lalu bereksperimen mengambil ekstraksi kalsium karbonat dalam tulang ayam untuk dijadikan beton.
Eksperimen dimulai dari membersihkan tulang ayam, merebusnya, lalu dikeringkan dengan oven.
Kemudian, tulang ayam ditumbuk dan ditambahkan air untuk menjadi kalsium hidroksida. Komponen tersebut lalu ditambah dengan sodium rikarbonat hingga menjadi kalsium karbonat.
Untuk dijadikan beton, kalsium karbonat berbentuk tepung selanjutnya dicampur dengan bahan lain. Rasio campurannya yakni 100 gram semen, 100 gram tepung tulang ayam, 200 pasir, dan air 100 ml. Kemudian, campuran tersebut dicetak berbentuk persegi empat berukuran 5 x 5 cm dan dikeringkan hingga menjadi beton.
Lebih Ringan
Siti menambahkan, beton dari tulang ayam telah melalui uji laboratorium di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Pengujian dilakukan untuk mengetahui porositas, densitas hingga seberapa besar beban yang bisa ditahan oleh beton tersebut.
Dari uji laboratorium tersebut diketahui beton campuran tulang ayam lebih padat karena porositasnya rendah. Kondisi itu membuatnya lebih kuat. Kelebihan tersebut muncul karena tulang ayam juga mengandung kalsium fosfat.
Beton dari tulang ayam pun memiliki struktur lebih ringan dan daya tekan lebih besar dibandingkan beton berbahan batu kapur.
Kelebihan lain, pembuatan beton dari tulang ayam lebih murah.
“Biaya buat bangunan jauh lebih murah. Untuk 100 x 100 meter bangunan, kalau pakai beton batu kapur biayanya Rp55 juta, sedangkan beton tupang ayam cuma Rp50 juta,” kata Siti.
Dia juga menjamin beton tidak akan membusuk meski berasal dari tulang ayam.
“Kami sudah buang bahan organiknya, direbus, dioven, lalu diambil ekstrak kalsium karbonat,” ujar Siti.
Inovasi beton dari tulang ayam, lanjut Siti, akan terus disempurnakan. Tujuannya, agar inovasi tersebut bisa memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Viandra menyampaikan, keberhasilan pembuatan beton dari tulang ayam merupakan hasil kerja keras ia, rekan dan guru pembimbingnya. Mereka rela memanfaatkan waktu setelah jam belajar untuk melakukan penelitian tersebut.
Kerja keras pun berbuah manis. Ketiga siswa membuktikan bahwa siswa Indonesia tak kalah hebat dibandingkan dengan siswa negara lain dari 53 negara yang mengikuti kompetisi tersebut.*
No Comment