Keren, Tanpa Petugas Kebersihan, Lingkungan SD Uchuwwatul Islam Tetap Bersih

Menginjakkan kaki di SD Uchuwwatul Islam, suasana bersih langsung terpancar. Tak ada sampah berserakan di lapangan maupun di dalam kelas.
Mey Wulandari Anggraeni, seorang guru kelas V mengatakan, murid dan guru yang secara bergantian menyapu kelas setiap pembelajaran berakhir. Tak ada jadwal khusus terkait piket membersihkan sekolah. Kesadaran membersihkan sekolah datang dari diri sendiri karena tak ada petugas kebersihan.
Setiap orang di SD Uchuwwatul Islam juga bertanggung jawab menekan munculnya sampah. Banyak cara yang dilakukan, termasuk siswa dan guru membawa tempat makan dan minum sendiri untuk mengurangi sampah kemasan.
Para pedagang di kantin pun diberi tanggung jawab mencegah munculnya sampah. Pedagang diharuskan menjual makanan dan minuman dalam kemasan berulang kali pakai.
Setelah makanan habis, siswa mengembalikan kemasan tersebut kepada pedagang kantin. Kemasan kemudian dibersihkan untuk dipakai ulang menjajakan makanan.
Apabila ada sisa makanan yang tak termakan, siswa memasukkan ke dalam lobang lodong sesa dapur (loseda).
Untuk sampah anorganik, disediakan satu tempat sampah besar. Itu lah satu-satunya tempat sampah di SD Uchuwwatul Islam. Minimnya persediaan tempat sampah bertujuan agar warga sekolah berpikir tidak menghasilkan sampah.
Sampah anorganik yang terkumpul kemudian dijual ke pengepul. Ada juga yang didaur ulang menjadi barang bermanfaat, seperti galon air minum diubah menjadi pot dan kertas dibuat bola.
Sementara, sampah residu dibawa pulang ke rumah oleh siswa maupun guru. Beberapa sampah residu, seperti kemasan makanan dari plastik, dijadikan eco bricks.
Warga sekolah juga memisahkan sampah B3 (bahan berbahaya beracun) untuk dimasukkan ke dalam boks khusus.
“Karena tidak ada petugas kebersihan, jadi tanggung jawab membersihkan sekolah diberikan kepada masing-masing penghuni sekolah,” ucap Mey di SD Uchuwwatul Islam, Rabu (23/7/2025).
Menurut Mey, untuk menerapkan tanggung jawab menjaga kebersihan dalam diri siswa harus dimulai dari guru. Guru bertugas memberikan contoh kepada siswa.
Guru juga rutin mengingatkan tentang pentingnya menjaga kebersihan saat kegiatan pembiasaan pagi sebelum belajar maupun saat pembelajaran berlangsung.
Salah seorang siswa Jihan Dwi Aryani menuturkan, pada awalnya susah untuk membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Namun, dia sekarang sudah terbiasa menjaga kenersihan lingkungan sekolah.
Jihan membawa tempat makan dan minum sendiri setiap ke sekolah. Sampah makanan yang tidak habis dibawa pulang ke rumah.
Adapun, sampah residu dijadikan eco bricks yang nantinya difungsikan sebagai hiasan kelas. Kesadaran Jihan untuk tidak membuang sampah sembarangan muncul karena rasa enggan lingkungan sekolah kotor.*
No Comment