Pantut Dicontoh, Pedagang Ini Tanggung Jawab Olah Sampah yang Dihasilkan

Desy Setiani menjadi salah satu contoh warga Bandung yang sudah sadar atas tanggung jawab itu. Sebagai penjual jus buah, Desy menghasilkan 10 kilogram sampah kulit buah setiap pekan.
Sejak dua tahun terakhir, ia mengolah sampahnya menjadi kompos dan cairan (mikro organisme lokal) MOL. Dengan begitu, sampah kulit buah milik Desy tak berakhir di TPA.
Pembuatan kompos dan MOL tergolong sederhana. Untuk membuat kompos, Desy menaruh gabah, tanah dan sampah kukit buah secara berselang-seling di dalam ember yang telah dilapisi karung. Setelah itu, diamkan campuran tersebut selama 14 hari.
Sementara, pembuatan MOL dilakukan dengan mencampurkan air beras, air kelapa, gula, dan sampah kulit buah. Campuran tersebut juga didiamkan selama 14 hari.
Kulit buah yang dipakai untuk membuat MOL dan kompos bisa jenis apapun.
Dengan mengolah sampah, tak hanya TPA yang terselamatkan, Desy juga mendapat manfaat. MOL dan kompos dapat dijual sehingga menghasilkan keuntungan.
“Satu botol MOL 600 ml dijual Rp5.000, sedangkan 2 kilogram kompos yang dimasukkan dalam plastik laku Rp7.000,” ujar Desy ditemui saat acara Bazzar Murah di Taman Silaturahmi, Kamis (21/8/2025).
Dalam acara tersebut, Desy menjual jus sekaligus MOL dan kompos. Selain dalam acara bazzar, Desy juga berjualan di rumah.
Menurut Desy, rumah menjadi tidak bau setelah terbiasa mengolah sampah. Apabila petugas kebersihan tak kunjung datang ke rumah, sampah organik bisa ia olah sendiri.
Selain itu, dengan mengolah sampah, biaya yang harus dikeluarkan Desy ke petugas kebersihan berkurang. Hal itu karena volume sampah yang diberikan ke petugas kebersihan pun semakin sedikit.
Menurut ia, mengolah sampah organik tidak sulit setelah terbiasa. Dia mendapat pengetahuan pengelolaan sampah dari pihak kelurahan maupun Dinas Lingkungan Hidup. Selain pengetahuan, ia pun memperoleh fasilitas berupa perlengkapan untuk mengompos.
Desy pun mengajak pelaku usaha lain untuk mengolah sampahnya. Mengolah sampah bisa mencegah kerusakan lingkungan, sekaligus menghasilkan keuntungan.*
No Comment