Serat Nusa, Produk Lokal dari Sampah Organik yang Fungsional dan Modern

Tas, dompet, topi merupakan beberapa barang fesyen Serat Nusa. Adapun, perabotan rumah tangga Serat Nusa terdiri dari karpet, sarung bantal kursi, keranjang, tempat tisu hingga alas piring dan gelas.
Pendiri Serat Nusa Gita Noerwardhani mengatakan, ide membangun Serat Nusa dimulai dari pengamatan terhadap kondisi lingkungan di Kampung Gunung Jaya dan Naringgul, Kabupaten Garut. Di dua daerah tersebut, terdapat banyak batang pohon pisang yang berceceran begitu saja di atas tanah.
Gita lalu berpikir untuk mengolah batang pohon pisang agar tak mencemari lingkungan. Setelah beberapa kali percobaan, ia memutuskan mengolah serat batang pohon pisang menjadi produk fesyen dan perabotan dekorasi rumah.
“Sebetulnya ingin Indonesia bersih dan memberikan perubahan terhadap lingkungan,” kata Gita ditemui di galeri Serat Nusa, Kecamatan Coblong, Selasa (26/8/2025).
Pembuatan produk Serat Nusa dapat mencegah banyak batang pohon pisang menjadi sampah. Dalam sebulan, Gita memanfaatkan 7 kilogram serat batang pohon pisang sebagai bahan baku. Satu kilogram serat berasal dari 10 batang pohon pisang. Artinya, sebanyak 70 batang pohon pisang setiap bulan tidak menjadi sampah karena diolah menjadi produk.
Selain memikirkan kebersihan lingkungan, ia pun meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat di dua kampung tersebut. Caranya dengan memberdayakan ibu-ibu dalam pembuatan produk Serat Nusa. Gita melatih para ibu agar bisa membuat produk Serat Nusa.
Pembuatan Serat Nusa dilakukan secara manual dengan tangan. Para ibu merajut serat pohon pisang menggunakan alat hakpen.
Untuk produk-produk kecil seperti dompet, dibutuhkan waktu satu hari untuk membuatnya. Sementara, tas dibuat selama dua pekan.
Hasil karya para ibu tergolong rapi. Desainnya pun modern. Gita membebaskan para ibu untuk mendesain produk sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Dapat penghargaan
Dikatakan Gita, batang pohon pisang yang digunakan bisa dari jenis pisang apapun, kecuali pisang ambon yang batangnya rapuh. Ia mengambil lapisan dalam dari serat batang pisang karena lebih lembut sehingga mudah dirajut. Serat dari pohon kemudian dikeringkan, lalu dirajut menjadi produk.
Produk yang sudah jadi dijual sacara langsung kepada konsumen maupun melalui daring. Harga produk mulai dari Rp55.000 hingga Rp 2 juta.
Gita menuturkan, konsumen yang tertarik berasal dari berbagai kalangan, terutama desainer. Konsumennya pun datang dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Gita, perkembangan Serat Nusa tergolong cepat. Dalam waktu dua tahun sejak didirikan, produk itu telah dipamerkan di berbagai peragaan busana di dalam negeri. Dalam waktu dekat, produk Serat Nusa pun akan ujuk gigi di sebuah peragaan busana di Paris.
Kebanggaan juga datang dari penghargaan yang diterima Gita sebagai pendiri Serat Nusa. Salah satunya adalah Anugerah Produk Kriya Terbaik Daerah Dekranasda Jabar Award 2025. Gita meraih juara 2 dalam kategori bahan baku serat alam dan kain.
Gita berharap, semakin banyak masyarakat yang sadar untuk mengolah sampah menjadi barang bermanfaat. Selain menjadikan lingkungan bersih, pengolahan sampah menjadi produk juga dapat membanggakan nama Indonesia ke luar negeri.*
No Comment