Tidak Hanya Tempat “Nongkrong”, Restoran Ini Jadi Wadah Masyarakat Menjaga Lingkungan

Marketing Communication Hutanika Dianti Saptarini mengatakan, konsep ramah lingkungan di Hutanika diterapkan secara komprehensif. Dimulai dari beberapa perlengkapan di restoran yang tidak berbahan plastik karena sulit terurai di dalam.
Contohnya, sedotan yang terbuat dari singkong. Selain itu, untuk membawa pulang makanan, pihak restoran tidak menggunakan kantong kresek, melainkan tas dari kain.
Hutanika juga menjaga lingkungan dengan cara memilah antara sampah organik dan anorganik. Hal itu diterapkan saat koki mengolah makanan dan minuman di dapur.
Pengunjung pun didorong membuang sampah organik dan anroganik secara terpisah. Pihak restoran telah menyediakan tempat sampah berbeda untuk dua jenis sampah itu. Sampah organik dan anorganik yang terkumpul kemudian diserahkan kepada pihak ketiga untuk diolah.
Menurut Dianti, Hutanika ingin menjadi bagian dari solusi masalah lingkungan di Kota Bandung.
“Kami sadar bumi makin panas, permasalahan di Bandung ada TPA penuh. Oleh karena itu, kami ingin menyumbang solusi untuk lingkungan,” kata Dianti di Restoran Hutanika, Senin (15/9/2025).
Meski demikian, Hutanika sadar tak bisa bergerak sendiri dalam melestarikan lingkungan. Oleh karena itu, restoran tersebut mengajak berbagai pihak berkolaborasi, seperti komunitas daur ulang sampah hingga penjual barang-barang ramah lingkungan.
Maka jangan heran, di dalam restoran yang terletak di Jalan Asia Afrika tersebut dapat ditemui toko yang menjual produk ramah lingkungan, seperti alat makan dari kayu.
Setiap pekan, acara bertema lingkungan pun digelar dengan menggandeng komunitas. Contohnya, pelatihan daur ulang sampah hingga bazar yang menjual baju bekas.
Menurut Dianti, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi ajang belajar bersama terkait pelestarian lingkungan.
Partisipasi masyarakat
Pengunjung dan masyarakat umum juga dapat berpartisipasi dalam langkah Hutanika melestarikan lingkungan. Caranya dengan menyalurkan barang bekas seperti wadah produk perawatan kulit. Wadah itu dapat dimasukkan ke dalam boks khusus yang disediakan di Hutanika.
Baju bekas dan minyak jelantah juga bisa disalurkan ke restoran yang berdiri awal 2024 itu.
Menurut Dianti, barang-barang tersebut akan didaur ulang oleh pihak ketiga yang bekerja dengan Hutanika. Khusus baju bekas, akan didonasikan kepada pihak yang membutuhkan.
“Bagi yang memberikan minyak jelantah dan wadah skin care hingga jumlah tertentu akan mendapatkan hadiah berupa makanan,” ucap Dianti.
Salah satu pengunjung Asri Wijayanti menyambut baik langkah Hutanika mewadahi barang-barang bekas dari masyarakat. Hal itu akan memudahkan masyarakat menyalurkan barang yang tidak terpakai lagi.
“Upaya yang bagus karena kita kadang tidak tahu ke mana mau salurkan barang bekas,” ujar Asri.
Dengan mengelola barang bekas dari masyarakat, lanjut Asri, timbulan sampah dapat dicegah. Ia berharap, semakin banyak restoran yang mengikuti langkah Hutanika. Dengan begitu, kegiatan “nongkrong” di restoran bisa lebih bermanfaat karena sambil melestarikan lingkungan.*
No Comment