Grup Ini Andalkan Barang Bekas untuk Bermusik

Semua barang bekas itu memiliki fungsi masing-masing. Untuk menghasilkan nada tinggi, tempat sampah berbahan kaleng menjadi andalan.
Sementara, nada sedang dihasilkan dari ember cat bekas dan nada rendah didapat dari drum air. Apabila perlu memunculkan efek tertentu, kantong plastik menjadi pilihan yang tepat.
Untuk memadukan barang bekas menjadi musik yang enak didengar, Distorsi Percussion rutin berlatih di sekolah mereka, yakni SMAN 19 Bandung. Latihan digelar setiap Jumat setelah jam pelajaran.
Pembina Distorsi Percussion Arief Hendrawan mengatakan, barang apapun bisa dipakai untuk bermusik. Termasuk pipa paralon untuk menggantikan alat musik tiup. Bahkan, korek api dan tiang listrik juga pernah dimanfaatkan Distorsi Percussion untuk bermusik.
“Semua barang bisa dipakai, asal menghasilkan suara,” kata Arief di SMAN 19 Bandung, Jumat (25/7/2025).
Barang-barang bekas yang dipakai grup tersebut berasal dari sumbangan anggotanya sendiri.
Meskipun menggunakan barang bekas, hal itu tak menyurutkan kreativitas Distorsi Percussion dalam menciptakan lagu. Mereka telah menciptakan delapan lagu latin sejak 2006. Lagu kreasi mereka dibawakan di beberapa acara musik dan mendapat sambutan baik dari penikmat musik.
Pembina lain Muhammad Zulfikar menambahkan, ketukan-ketukan dari setiap barang bekas menjadi andalan dalam menghasilkan lagu. Agar ketukan-ketukan itu selaras, diatur giliran penabuhan setiap barang.
Zurfikar juga mengatur waktu permainan pemain, kapan bermain sendiri dan berbarengan.
Raisha Anindya, salah seorang anggota Distorsi Percussion mengatakan, tantangan paling besar dalam membawakan lagu dari instrumen barang bekas yakni mengatur tempo agar selaras dengan anggota lain.
Raisha berperan membawakan nada tinggi yang didapat dari tempat sampah bekas berbahan kaleng. Memainkan musik nada tinggi, bagi Raisha, menjadi saluran melepaskan emosi.
Selain itu, dia mendapat manfaat lain, yakni rasa bangga karena bisa menghasilkan musik dari barang bekas.
“Ternyata banyak orang yang belum tahu, dari sampah dipukul-pukul bisa jadi musik. Seru kalau cerita ke temen-temen,” ucap Raisha.
Selain Raisha, ada Hilman Muadzani yang juga merupakan anggota Distorsi Percussion. Menurut Hilman, untuk bisa memainkan musik dari barang bekas, hal penting yang perlu dipelajari adalah ketukan. Agar ketukan harmonis, dia belajar menabuh tempat sampah secara berulang-ulang.
Meskipun menggunakan barang bekas, bagi Hilman, irama dari permainan musik Distorsi Percussion tetap enak didengar. Dua tahun bergabung dalam grup tersebut, Hilman bangga bisa menampilkan musik unik ke hadapan para pendengar.*
No Comment