Perempuan Rentan Terdampak Kerusakan Lingkungan

Hal itu ia ungkapkan dalam webinar women’s talk bertema “Kelola Sampah dari Rumah” yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum, Senin (13/10/2025).
Sano memaparkan data bahwa 47,8 juta lebih banyak perempuan dibandingkan dengan laki-laki menghadapi kelaparan dan terganggu pekerjaannya karena cuaca ekstrem. Kondisi itu berdampak pada pendapatan dan keamanan pangan keluarga.
158 juta perempuan dan anak perempuan bisa jatuh dalam kemiskinan pada 2050 akibat perubahan iklim.
Untuk mengatasi kondisi itu, menurut Sano, perempuan memiliki kekuatan untuk menciptakan solusi. Salah satunya, menjadi penggerak dalam rumah tangga untuk mengolah sampah.
“Perempuan memainkan peran krusial dalam pengelolaan sampah rumah tangga, seperti pemilahan dan pengolahan sampah,” kata Sano.
Perempuan juga berperan dalam gerakan komunitas untuk kampanye kesadaran lingkungan, menciptakan produk daur ulang bernilai ekonomis hingga memimpin gerakan pengelolaan sampahdan kelestarian lingkungan.
Menurut Sano, gerakan perempuan akan kuat bila bersatu lintas organisasi atau komunitas.
Ia mendorong perempuan untuk menciptakan revolusi mental dari rumah dalam hal persampahan. Olah sampah organik untuk dijadikan kompos. Sementara, sampah anorganik disalurkan kepada pemulung sehingga tinggal sampah residu yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Penasihan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pekerjaan Umum Irma Dody Hanggodo menuturkan, ibu berperan dalam mengatur pola konsumsi dan pengelolaan sampah di rumah, mulai dari mengurangi, memilah dan mendaur ulang.
Rumah merupakan ruang terkecil dan terkuat dalam membentuk perilaku dan kebiasaan pengolahan sampah. Irma mengatakan, sampah yang sudah terpilah dari rumah akan mengurangi beban pengangkutan sampah dan memperpanjang usia TPA.*
No Comment