Blog

Desain Prototipe Rumah Sampah Pertama di Indonesia, Mahasiswa Arsitektur Unpar Raih Juara Dua Sayembara Archinesia 2022

Inovasi dari generasi muda terhadap keberlangsungan lingkungan hidup seakan menjadi oase di tengah padang pasir. Seperti halnya yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

Dikutip dari situs resmi Unpar, mahasiswa Unpar kembali torehkan prestasi membanggakan. Kali ini empat mahasiswa Program Studi Arsitektur UNPAR angkatan 2018 berhasil rengkuh juara dua dalam ajang Archinesia Student Design Competition 2022 pada Sabtu, (29/1/2022) lalu yang diselenggarakan oleh salah satu media arsitektur terkemuka di Indonesia yaitu ARCHINESIA (Architecture Network in Southeast Asia).

Adapun sayembara desain tersebut diselenggarakan secara nasional yang dapat diikuti oleh mahasiswa D3, S1, S2, S3, maupun PPAr (Program Pendidikan Profesi Arsitek) sebagai tantangan mahasiswa untuk memikirkan apa saja yang telah berubah setelah pandemi ini yang berdampak dalam konteks arsitektur hunian dan diimplementasikan dengan menerapkan perubahan-perubahan pada lahan yang berukuran 100m².

Mengusung tema “Sampah” yang dilatar belakangi oleh dampak negatif pasca pandemi, mengantarkan Michael Steven Nugroho, Eistein Benedito, Ravi Kukuh Hendratno, dan Ganesha Adi Pratama sebagai juara dua mengalahkan 200 peserta lainnya.

Tim yang beranggotakan empat orang tersebut menemukan adanya dampak pasca pandemi yang menimbulkan ‘Sampah Pandemi’ berupa masker sekali pakai, sampah-sampah plastik yang disebabkan oleh pengiriman makanan dan barang dari pembelian online, serta sampah-sampah lain yang susah atau lama untuk diurai.

Melalui pemikiran tersebut, mereka berusaha membuat prototipe rumah sampah pertama di Indonesia dengan visi untuk membantu pemerintah memecahkan masalah timbunan sampah tersebut.

Maka dari itu, mereka mengubah sampah seperti masker sekali pakai menjadi batu bata, kotak makanan plastik menjadi instalasi nako dan pot tanaman, serta botol plastik diubah menjadi dinding translusen, dan lain-lain.

Michael, sebagai perwakilan kelompok tersebut menuturkan bahwa timnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk dapat mendapatkan juara pada ajang tersebut.

“Walau dengan waktu 11 hari desain, jujur kami cukup percaya diri dengan hasil rancangan kami, walau gagal menjadi juara 1, kami cukup puas dan bangga akan hasil kami karena kami sudah memberikan ide-ide dan gagasan terbaik dari kami. Untuk itu, menjadi ambisi kami untuk tidak menyerah dan terus memenangkan lomba-lomba yang lebih besar lagi,” tuturnya saat dikonfirmasi, Rabu (9/2/2022).

Lewat desain timnya tersebut, dia berharap dapat menyadarkan masyarakat luas akan sampah dan arsitektur sebagai pemecah suatu masalah.

“Saya berharap ide sampah ini benar-benar bisa diusahakan, mendengar bahwa di Indonesia juga sudah mulai membuat batu bata menggunakan bahan daur ulang, sehingga membuat saya percaya bahwa arsitektur dapat dilihat menjadi solusi atas masalah yang lebih besar dan tidak terbatas oleh keinginan dan ego client atau arsitek itu sendiri,” katanya.

Lebih lanjut, dia berharap mahasiswa arsitektur khususnya Unpar, dapat mengikuti banyak sayembara sebagai wadah melatih kemampuan dalam praktik nantinya.

“Saya percaya bahwa sayembara ini menjadi wadah yang baik untuk melatih kita karena di sayembara ini, karya kita akan disidang dan dikomentari oleh real architects, yang berpraktik dan memang sudah sangat berpengalaman. Selain itu persaingan di sayembara ini sangat baik untuk melatih ambisi kita untuk selalu ingin menjadi yang terbaik dan belajar dari mahasiswa kampus lain yang hebat-hebat juga,” ucap Michael.

Selain itu, mahasiswa arsitektur Unpar lainnya yaitu Jeremy Hanson dan Ananda Kevin pada tim yang berbeda, masuk dalam sepuluh besar finalis yang berkesempatan mempresentasikan gagasannya kepada juri dalam ajang tersebut.(*)

1 Comment

4
1Comment

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.