Blog

DLH Jabar Gelar Audiensi Terkait Teknologi Pengelolaan Sampah Waste Treatment Technology  

KOTA BANDUNG – Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat menggelar audensi terkait teknologi Pengelolaan Sampah Waste Treatment Technology di Kantor DLH Jabar, Kota Bandung, Rabu (10/8/2022).

Hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar Prima Mayaningtias menerima perwakilan dari Jepang terkait kerjasama pengolahan sampah tersebut.

Dikutip dari akun resmi instagram DLH Jabar, audiensi salam rangka usaha pengurangan pembuangan sampah plastik laut. Kerjasama antara Jepang dan Indonesia akan dilakukan dengan beberapa tema kegiatannya yaitu: plastic reduction, recycling, dan disposal di Indonesia

Japan NUS Co., Ltd., salah satu perusahaan yang memegang inisiatif pengelolaan dan pembuangan sampah, sedang merencanakan peluncuran pilot project terkait pengelolaan sampah, maka pada kesempatan kali ini Japan NUS mengunjungi Provinsi Jawa Barat untuk mengumpulkan informasi terkait kelayakan aktivitas di Jawa Barat.

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan ini diantaranya yaitu mengunjungi Kantor DLH Provinsi Jawa Barat untuk melakukan audiensi yang kemudian akan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke TPPAS Sarimukti.

Sementara itu, dikutip dari Maritim.go.id Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bersama Kementerian Lingkungan Hidup Jepang berkolaborasi dalam pengelolaan sampah pada rangkaian acara “6th Joint Committee on Waste Treatment” (08-03-2022).

“Saya mengapresiasi Mr. Yutaka Syoda atas dukungannya yang konsisten untuk memperkuat kolaborasi antara kedua negara dalam bidang lingkungan,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Kemenko Marves, Nani Hendiarti.

Menanggapi apresiasi tersebut, Wakil Menteri Urusan Lingkungan Global Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, Yukata Syoda, mengatakan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan Deputi Nani mengenai pengelolaan limbah dan kerja sama fasilitas pengolahan limbah di Indonesia sejak tahun lalu pada rangkaian pertemuan United Nations Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) di Glasgow, Skotlandia.

“Saya berharap kerja sama bilateral antara Indonesia dan Jepang akan semakin memperkuat kolaborasi kedua negara pada bidang pengelolaan sampah,” ucap Wamen Syoda.

Menurut Deputi Nani, kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian pertemuan 5th Joint Committee yang telah dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2021 serta pertemuan level teknis (yaitu joint working group discussion) pada bulan Mei 2021 dan Januari 2022 dengan pokok bahasan isu Keberlanjutan Off-taking dan Analisis Rantai Nilai Sampah Perkotaan.

“Dari pertemuan tersebut kita telah mengeksplorasi beberapa ide penguatan mekanisme pengelolaan sampah di Indonesia, yang dibagi dalam dua topik yakni”Keberlanjutan off-taking produk RDF” dan “Analisis Rantai Nilai Sampah Kota,” kata Deputi Nani.

Dirinya menjelaskan bahwa kedua topik tersebut memiliki relevansi langsung dengan upaya pemerintah Indonesia dalam percepatan pengelolaan sampah.

“Jika kita mengangkat permasalahan persampahan ke dalam tataran kebijakan, pemerintah telah menetapkan target 30% pengurangan dan 70% penanganan sampah di darat, serta 70% penanganan sampah laut pada tahun 2025,”ucapnya.

Terkait mekanisme pengelolaan sampah, pihak Jepang melalui Konsultan pada Japan Environment Sanitation Center, Makoto Kosaka, mengungkapkan, di Jepang, Pemda setempat telah mempromosikan pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah yang dapat mengurangi beban lingkungan bersama dengan Pemerintah Pusat dan Sektor Swasta.

Kosaka menerangkan, di saat bersamaan, mekanisme tersebut memungkinkan distribusi energi panas (listrik) juga secara aktif dilakukan untuk meningkatkan nilai tanah di sekitar fasilitas pengelolaan sampah.

“Hasilnya, sekarang di Jepang, Waste to Energy dapat ditemukan bahkan di area padat penduduk,” ucap Kosaka.

Dalam dua tahun terakhir, menurut Deputi Nani, pemerintah Indonesia mengambil langkah luar biasa untuk mempercepat masalah persampahan yang beberapa difokuskan pada wilayah yang memerlukan optimalisasi manajemen pengelolaan sampah segera, seperti kabupaten/kota yang masuk dalam program DAS Citarum, pembangunan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), dan Kabupaten/Kota Sarbagita, Bali.

“Kami melakukan upaya luar biasa dalam menyelesaikan masalah persampahan di Sarbagita, Bali, melalui kegiatan revitalisasi dan pembangunan fasilitas persampahan, berupa TPS3R (small waste treatment facility) dan TPST (integrated waste treatment facility),”kata dia.

“Upaya ini dilakukan melalui pendekatan penanganan sampah sedekat mungkin dengan sumber, sampai dengan penerapan teknologi RDF, mengoptimalkan penerapan prinsip ekonomi sirkular, guna meminimalisir kebutuhan akan TPA,” ucapnya melanjutkan.

Deputi Nani kemudian mengungkapkan harapannya agar pendekatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan kepada TPA (landfill area) serta mengoptimalkan manfaat sampah sebagai sumber ekonomi dan sumber energi baru.

Mengenai pengelolaan sampah pada area padat penduduk, Staf Senior International Cooperation Departement For Waste Management, Clean Authority of Tokyo (CAT 23), Tomatsu Osajima, memberikan gambaran pengelolaan sampah di Kota Tokyo, Jepang.

“Warga biasanya membungkus sampah di kantong plastik sebelum dibuang, sehingga pekerja tidak perlu menyentuh limbah infeksius secara langsung,” ucapnya.

Osajima juga menerangkan bahwa CAT23 juga membagikan pedoman tata cara membuang limbah rumah tangga kepada masyarakat. Pedoman tersebut juga dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.

Terkait dengan pengelolaan sampah pada masa pandemi, Deputi Nani menjelaskan bahwa penanganan sampah medis yang bersumber dari rumah tangga menjadi tantangan tersendiri.

Merepresentasikan DOWA Eco System, Jun Yamamoto, menjelaskan pengamatannya terhadap pengolahan limbah B3 (Limbah Medis) di Indonesia.

“Kurangnya pembuangan limbah medis yang baik telah menjadi masalah yang lebih serius akibat perluasan asuransi kesehatan dan pengetatan peraturan perundang-undangan mengenai limbah medis,” katanya.

Menurut Yamamoto, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan pengenalan sistem pengelolaan dan pembuangan yang berwawasan lingkungan untuk limbah PCB dan peralatan yang terkontaminasi PCB di Indonesia.

“Saat ini sedang berlangsung proses pembangunan fasilitas pengolahan PCB di Indonesia. DIharapkan pada pertengahan tahun 2022 akan mulai dilaksanakan uji operasinya,” kata Yamamoto.

Mengenai upaya pengolahan limbah B3, Deputi Nani mengatakan, “Kami sudah mengambil kebijakan penyediaan insinerator untuk hal tersebut sebagai tindakan penanggulangan sampah medis. Tentu hal ini masih perlu pemutakhiran bentuk intervensi yang tepat, cost efficient, dan aman bagi lingkungan,” ucapnya.

Wamen Syoda mengharapkan kolaborasi kedua negara terkait pengolahan limbah akan terus berlanjut dan pertemuan ini dapat menghasilkan regulasi yang mendukung.

“Saya berharap pertemuan ini dapat berkontribusi dalam pengolahan sampah berkelanjutan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Wamen Syoda.

Deputi Nani kemudian mengungkapkan harapannya agar topik yang didiskusikan oleh kedua negara dapat memberikan manfaat dan kontribusi yang sangat baik bagi penyelenggaraan pengelolaan sampah di Indonesia.

“Saya mengundang pemerintah Jepang untuk bisa berbagi pengalaman dan bekerja sama dalam mengurai tantangan persampahan pada umumnya dan sampah medis khususnya di Indonesia” ucap Deputi Nani pada akhir sambutannya.(*)

No Comment

0
No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.