Blog

Mengenal Penyakit Berbasis Lingkungan

Lingkungan yang buruk kebersihannya akan berkolerasi dengan kesehatan manusia di sekitaranya. dr. Elfrida Panggabean, dokter patologi klinik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Kota Bandung menuturkan, ternyata banyak penyakit berbasis lingkungan. Misalnya infeksi saluran pernapasan akut, disingkat menjadi ISPA. Yang sekarang juga influenza, termasuk flu burung juga, virus corona, ini termasuk dari ISPA yang menyebabkan ISPA berat yaitu infeksi saluran pernafasan bawah.

“Jadi secara tidak langsung dari ISPA di atas, turun ke bawah menjadi pnenomoni itu pun pertamanya adalah pernyakit yang berbasis lingkungan, dari mulai ISPA kemudian jadi ISPB dan akhirnya pnenomoni dan itu akan menjadi berat,”ucapnya beberapa waktu lalu pada Webinar Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022.

Kemudian TBC, tuberkulosis ini akrab di telinga karena di Indonesia. Indoesia adalah negara endemik TBC. Di dunia itu kadang-kadang nomor 2, kadang-kadang nomor 3. Paling banyak penduduknya yang terpapar TBC.

“Nah itu juga berbasis lingkungan. Kenapa? karena ketika seseorang membuang dahak sembarangan dan mengandung kuman TBC itu penyebarannya itu bisa terjadi aerosol di udara, bisa sampai dengan lima meter, ketika dia batuk bisa sampai dua setengah meter tuh menular di sekitarnya,”ucapnya.

Kemudian demam typhoid yang berasal dari tinja yang mengandung bakteri thyphoid. Ada lalat hinggap di tinja, lalu lalatnya hinggap ke makanan, lalu terjadilah terjadilah infeksi dari makanan yang tidak sengaja termakan dan mengandung bakteri cukup banyak.

“Makanya ada orang yang kuatir kenapa engga mawas padahal hidup di tempat kotor. Karena dia udah biasa lalu dia tervaksinasi sendiri secara alami. Jadi, dia kuat dengan jumlah bakteri yang orang lain sudah sakit, dia tidak sakit,”tuturnya.

Kemudian diare, menurut dia, diare ini khas sekali dari air kotor biasanya. Kalau air kurang matang pasti bakteri dari air tersebut hidup dan terminum atau termakan. Bakteri akhirnya hidup di tubuh manusia tersebut, maka terjadilah diare reaksi.

“Kemudian demam berdarah dengue, DBD. Sekarang juga lagi merebak. Kenapa dia berbasis lingkungan? karena dari vektor nyamuk. Nyamuk itu ada di air yang tergenang dan dia bersih. Dari mana? dari sampah-sampah yang terbuka, kena hujan, tertampung tidak sengaja, disitu jentik-jentik nyamuk muncul,”ujarnya.

Menurut dia, ketika satu orang kena DBD nyamuknya berkembang di situ, kemudian menggigit orang-orang yang lain terjadilah penularan secara tidak langsung.

“Jadi sama itu berbasis lingkungan juga. Yang dari sektor nyamuk yang ditularkan oleh nyamuk itu bukan hanya demam berdarah. Maliria juga, cikungunya juga. Ini penyakit-penyakit yang akrab di lingkungan kita,”ucapnya.

“Kemudian penyakit cacing, cacingan ini, juga berbasis lingkungan. Dari bermain tanah tidak mencuci tangannya dari higienis, higienis diri sendiri mencuci tangan itu mencegah kecacingan. Tetapi jika kita tidak higienis, maka muncul penyakit kecacingan dari lingkungan. Ada berbentuk filariasis atau cacing darah, ada leptospirosis itu dari kencing tikus biasanya. Ada amebiasis itu amoeba biasanya dari lalapan- lalapan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam yang kotor yang ada amoebanya,”tuturnya melanjutkan.

Selanjutnya, kata Elfrida, pediculosis atau kutu di kepala, dan di badan. Kemudian ankilostomiasis itu juga cacing tambang, kemudian askariasis yang paling bawah itu cacing gelang, dan kebisingan juga salah satu penyakit yang berbasis lingkungan walalupun tidak ada kaitannya dengan sampah. Penyakit yang lain untuk kebisingan untuk berbasis lingkungan adalah penyakit enterobiosis, yaitu cacing keremi. Kemudian trichuriasis yaitu cacing cambuk.

Lainnya, penyakit akibat virus seperti campak, polio, HIV, dan hepatitis yang memiliki kekhasan dengan kebersihan higiennya diri dan kesadaran apakah ingin ikut vaksinasi atau tidak.

“Karena campak itu bisa dicegah dengan vaksinasi pada usia bayi 9 bulan. Polio bisa dicegah dengan vaksinasi sejak lahir. Kemudian penyakit berbasis lingkungan yang lain yaitu keracunan. Keracunan, flu burung, PES, Anthrak. Itu semua adalah penyakit berbasis lingkungan yang harus kita atasi dari misalnya ada pesta ada hajatan. Biasanya keracunan itu khas banget pulang dari hajatan,”ucapnya.

Adanya keracuanan, karena yang masak lupa cuci tangan, sehingga makanan yang dimasak itu masuklah bakteri salmonella atau masuk bakteri staphylococcus jadilah semua makanan yang terkontaminasi itu banyak yang muntah, akhirnya terjadilah wabah keracunan. Demikian juga di pabrik. Kalau yang pabrik catering, ternyata keracunan dari situ, dari kebersihan yang masaknya atau yang mengemasnya juga bisa.

“Nah flu burung dengan covid19 mirip ya dengan ISPA. PES ini dari tikus ya, kemudian Anthrax itu dari sapi. Dari sapi lalu menularkan kepada manusia,”ujarnya.

Sebagai solusi, kata dia, diketahui sampah itu beresiko menyebabkan penyakit, di sisi lain kemmapuan untuk bisa mengelola sampah sendiri masih minum. Minimal, ketika individu mengelola sampah di rumah untuk membuangnya saja, kemudian tangan dicuci.

“Tangan kita dicuci kemudian ketika kita punya sampah medis di rumah, baik kasa, tisu bekas cairan tubuh yang kemungkinan besar akan menularkan penyakit, itu kumpulkan dalam satu wadah kemudian kita semprotkan dengan desinfektan, baru kita tutup. Itu sangat cukup untuk mengamankan,”ujarnya.

“Jadi, sampah adalah faktor resiko untuk penularan penyakit berbasis lingkungan, kita perlu kerjasama dari semua pihak. Tidak bisa hanya ibu bapak di rumah saja, dibantu juga oleh pihak-pihak yang akan mengelolanya. Dan saya percaya sudah berjalan. Jadi, semua sampah-sampah yang kita buang, itu sudah dilakukan pengelolaan yang baik dipilah di sana memang pekerjaan yang mungkin bertambah, di bagian kitanya sendiri ya kita harus peliharalah lingkungan yang bersih dan sehat dan milikilah perilaku dan gaya hidup sehat. Karena semua itu sangat membantu kita mencegah supaya apa yang kita takutkan dari penularan penyakit berbasis lingkungan itu tidak terjadi. Apalagi sekedar hanya dari sampah yang bisa kita atasi,”ucapnya.(*)

2 Comments

3
2 Comments
  • Gejala Anyang-Anyangan

    Jika masyarakatnya tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya maka dipastikan sumber penyakit akan datang, apalagi faktor internal di diri sendiri bisa jadi menimbulkan penyakit lainnya.

  • raphael

    Di daerah saya (Pebayuran) kadang kalau banjir tanggulnya rawan jebol pak.

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.