Blog

Bank Sampah Dapat Tumbuhkan Ekonomi Sirkular

Bank sampah yang kita kenal selama ini mungkin hanya sebatas sebagai tempat pengumpulan sampah yang sudah dipilah. Namun, ternyata bank sampah juga dapat memiliki peran dalam menumbuhkan ekonomi sirkular.

Bank Sampah Induk Benteng Kreasi Kabupaten Bogor yang dikelola oleh PT. Xaviera Global Synergy mengintegrasikan bank sampah dengan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) serta pusat daur ulang dan sudah mengolah sampah di masyarakat, pemukiman, hotel, mall, apartemen, pasar, dan industri.

Pada webinar Bank Sampah Terbaik Indonesia Series #1 yang diselenggarakan oleh World Cleanup Day Indonesia September lalu, Direktur Bank Sampah Induk Benteng Kreasi Kabupaten Bogor, Wilda Yanti menyampaikan, ada empat hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan bank sampah agar dapat berkelanjutan.

Empat hal tersebut, yaitu harus punya kemauan untuk mengedukasi masyarakat, peduli terhadap lingkungan, memiliki jiwa sosial, dan harus menjalankan pilar ekonomi. Kalau salah satunya ditinggalkan, bank sampah yang dijalankan akan mengalami stagnan.

“Misalnya kita hanya fokus ke ekonomi, bank sampah berubah menjadi lapak yang bersaing dengan lapak besar dan akhirnya kalah saing karena modalnya kecil. Tetapi kalau kita juga hanya fokus ke gerakan sosial dan kepedulian lingkungan, biasanya juga stagnan karena pembiayaannya terbatas. Itulah mengapa kita harus berpikir bahwa gerakan ini harus mengarah ke ekonomi sirkular agar bisa berkelanjutan. Maka, ekonomi sirkular adalah kunci bagaimana membangun kemandirian di masyarakat,” ujarnya.

Gerakan ekonomi sirkular yang dilakukan oleh Bank Sampah Induk Benteng Kreasi telah menghasilkan olahan sampah menjadi berbagai macam produk. Mulai dari kompos, pakan ternak, biogas, etanol, briket, Refused Derived Fuel (RDF), dan Solid Recovery Fuel (SRF) yang terbuat dari sampah multilayer dan sudah dipakai oleh industri untuk menjadi pengganti dan pencampur bahan bakar di industri.

“Kami sekarang mungkin menjadi satu-satunya perusahaan dengan konsep mengolah sampah di sumbernya dengan edukasi, training, dan pemilahan yang memberi pelayanan serta pendampingan secara terpadu. Termasuk program penyiapan teknologi, jasa, bahkan sampai sumber daya manusia. Kami juga menggunakan teknologi tepat guna dan anti bau menyengat,” ucapnya.

Perempuan peraih Kartini Next Generation Award 2014 tersebut menyampaikan, membangun ekonomi sirkular pada pengolahan sampah dengan menciptakan bisnis, edukasi, kelompok-kelompok usaha baru, dan menciptakan bank sampah unit juga otomatis melahirkan lapangan kerja baru di masyarakat.

“Bagi kami, perusahaan yang mengambil tenaga profesional dan orang-orang yang berpendidikan itu hal biasa. Tapi, saat kami bisa membantu lapangan kerja bagi mereka yang tidak pernah masuk kelas dan mengajak mereka menjadi berkelas, itu adalah kebahagiaan tersendiri dalam gerakan di pengolahan sampah ini,”tutur Wilda.

“Kalau kemarin orang-orang bangga bisa impor sampah ke Indonesia, kami cukup bangga bisa menjadi supplier dan mengekspor air lindi sampai ke luar negeri. Produksinya ada di kelompok-kelompok mitra binaan kami di unit-unit bank sampah, kemudian baru dikemas dan dipasarkan secara bersama-sama. Jadi, kolaborasi dan sinergi itu sangat penting dalam pemasaran di bank sampah,”katanya melanjutkan.

Wilda menilai masyarakat yang membuang sampah sembarangan tidak melulu soal ketidakpedulian terhadap lingkungan, tetapi terkadang karena kurangnya edukasi secara intensif terkait tata cara mengolah sampah. Ia berharap generasi muda dapat memotong rantai ketidakpedulian dan pola edukasi lama, sehingga ke depannya gerakan peduli sampah bisa jadi lebih masif.

“Semua penghasil sampah bertanggung jawab terhadap sampahnya. Kita selalu berpikir sampah adalah sumber masalah, tapi selama ini cara kita lah yang salah dalam mengatasi masalah sampah. Kalau sudah ada sampah, pilah sampahmu. Ini kunci dari ekonomi sirkular,” kata Wilda.

Saat sampah terpilah dari sumber, gerakan ekonomi sirkular akan lebih optimal dan pengolahan sampah lebih cepat, sehingga menghindari penumpukan di bank sampah. Masyarakat yang melakukan pemilahan sampah dari sumber akan membantu percepatan dan meminimalisir biaya operasional pengelolaan sampah.

Wilda menambahkan, jika mereka melayani 8000 kepala keluarga dan separuhnya memilah sampah dari sumber, maka hal itu bisa mengurangi 4000 kantong plastik setiap harinya yang kotor dan menjadi sampah residu.

“Prinsip pengolahan sampah itu sangat sederhana. Buatlah sampah kita tidak kotor. Semakin terpilah, maka semua sampah bisa dikelola dengan baik di bank sampah,”ucapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa inti dalam ekonomi sirkular adalah membangun keseimbangan alam dan menjaga ekosistem. Kepedulian lingkungan, sosial, ekonomi dan edukasi adalah pilar yang tidak bisa ditinggalkan untuk gerakan dan solusi yang berkelanjutan.

“Kita harus optimis bahwa bank sampah bisa terus berkembang, asal kita dapat membangun manajemen yang baik agar masyarakat bisa terus bergerak dan bisa membiayai operasional bank sampah secara optimal. Satu pesan saya, lakukan dari sekarang sampai nanti. Sampah anda, investasi anda,” tutur Wilda.(mgg)*

No Comment

1
No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.