Blog

Bijak Dalam Mengelola Sampah Elektronik

Di era digital ini, penggunaan perangkat elektronik semakin meningkat begitupula dengan sampah elektronik yang dihasilkan.

Dikutip dari madaniberkelanjutan.id, sampah elektronik atau e-waste adalah peralatan elektronik yang sudah tidak dapat digunakan, tidak terpakai atau tidak diminati lagi dan menjadi barang bekas dan perlu dibuang, dalam keadaan utuh ataupun tidak.

Mengacu pada PP 27 Tahun 2020 tentang pengelolaan sampah spesifik, sampah elektronik termasuk ke dalam sampah yang mengandung B3, dimana terdapat kandungan B3 di dalamnya dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan jika tidak ditangani dengan tepat.

Sampah elektronik tidak boleh disatukan dengan sampah lainnya karena mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Beberapa bahan yang biasanya terkandung dalam sampah elektronik diantaranya komponen logam berat, yaitu merkuri, timbal, kromium, kadmium, arsenik, dan lain-lain.

Bertepatan dengan peringatan Hari Sampah Elektronik Internasional 2021, EwasteRJ bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar webinar berjudul “Pengelolaan Sampah Elektronik” yang diselenggarakan pada Kamis (14/10/2021).

Rosa Vivien Ratnawati, SH., M.Sc. selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) menyatakan bahwa pada tahun 2021 di Indonesia sampah elektronik mencapai 2 juta ton dimana pulau jawa sebagai pulau berpenduduk terpadat berkontribusi sebanyak 56%.

Menurut laporan tahunan Global E-Waste Monitor 2020, yang dirilis PBB, jumlah sampah elektronik pada tahun 2019 lalu mencapai 53 juta ton namun hanya 17,4% dari limbah elektronik yang mengandung campuran zat berbahaya dan bahan berharga yang dikumpulkan, diolah dan didaur ulang dengan benar.

“Penanganan sampah elektronik ini rasanya dibutuhkan satu penanganan yang tepat yang baik. Potensi timbulan sampah elektronik di Indonesia sangatlah besar. Kita sebagai negara terpadat ke-4 kalau masing-masing orang pegang hp satu aja, ada 200 juta potensi hp yang kemudian nanti bisa jadi sampah dan bergantian model baru,” tuturnya.

Rafa Jafar selaku Founder EwasteRJ menuturkan, bahwa di Indonesia banyak sekali tukang loak yang melakukan informal recycyling centers. Mereka tidak menggunakan perlindungan dan ilmu yang tepat sehingga dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

“Permasalahannya adalah gimana caranya dari pengguna perangkat elektronik rumah tangga bisa membuang dan menyalurkan sampahnya ke formal recycling center tanpa melewati informal recycling. Karena permasalahannya disini kalau e-waste kita udah masuk ke informal recycling, pencemaran lingkungannya datang dari sini. Akan beranjak ke masalah-masalah yang lainnya,” ujar Rafa.

EwasteRJ sebagai komunitas yang bergerak di bidang sampah elektronik memiliki gerakan “campaign-college-circulate”.

Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang apa itu sampah elektronik dan harus dikemanakan. Untuk menjawab pertanyaan masyarakat
“kemana harus membuang sampah elektronik?”

EwasteRJ menyediakan drop box sampah elektronik yang berada di 20 titik di 12 kabupaten/kota. Untuk sampah elektronik berukuran besar seperti laptop atau radio dapat dikirimkan langsung ke warehouse EwasteRJ. Kemudian EwasteRJ juga memastikan bahwa sampah elektronik tidak jatuh ke tangan yang salah. Mereka mendistribusikan ke perusahaan daur ulang sampah elektronik yang tentunya sudah tersertifikasi oleh KLHK.

Rafa mengatakan, solusi untuk konsumen adalah perlu adanya gaya hidup dan pola pikir yang baru.

“Gimana caranya penggunaan perangkat elektronik kita dikurangi. Gimana caranya kita jadi konsumen produk elektronik yang bijak dalam membeli, pintar dalam menggunakan, dan bertanggung jawab, setelah menjadi sampah dibuang ke tempat yang benar. Mau sebanyak apapun kita mendaur ulang sampah elektronik tapi produksinya lebih banyak itu tidak menyelesaikan masalah,” ujarnya.(*)

No Comment

0
No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.