Blog

Masuki Musim Penghujan, Pemda Imbau Waspada 

KOTA BANDUNG – Mengutip rilis dari BMKG Stasiun Klimatologi Jabar, pada dari 41 Zona Musim (ZOM) diprakirakan mulai September 2022 sebanyak 12 ZOM (29,3 persen), sebagian besar ZOM mulai pada bulan Oktober 2022 sebanyak 18 ZOM (43,9 persen), dan sisanya di bulan November 2022 sebanyak 6 ZOM (14,6 persen).

Dibandingkan rata-ratanya selama 30 tahun (1991-2020): Awal Musim Hujan 2022/2023 pada umumnya diprakirakan akan maju dari rata-ratanya sebanyak 18 ZOM (43,9 persen), sama dengan rataratanya sebanyak 12 ZOM (29,3 persen), dan mundur dari rata-ratanya sebanyak 6 ZOM (14,6 persen).

Sifat hujan selama musim Hujan 2022/2023 di sebagian besar Zona Musim (ZOM) diprakirakan Normal (N) sebanyak 33 ZOM (80,5 persen). Atas Normal (AN) sebanyak 7 ZOM (17,1 persen), dan dan wilayah lainnya diprediksi akan bersifat Bawah Normal (BN).

Prakiraan Puncak Musim Hujan 2022/2023, di sebagian besar ZOM akan terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2023 sebanyak 22 ZOM (53,6 persen), di beberapa daerah lainnya puncak musim hujan terjadi pada bulan Oktober 2022 sebanyak 5 ZOM (12,2 persen), November 2022, Desember 2022 dan Maret 2023 masing-masing sebanyak 4 ZOM (9,8 persen), serta April 2023 sebanyak 2 ZOM (4,9 persen).

Pada periode peralihan musim (Oktober – November 2022 perlu diwaspadai peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan potensi hujan es.

Pemerintan Daerah dan masyarakat di daerah rawan banjir dan tanah longsor diminta lebih waspada menjelang dan pada puncak musim hujan terutama di wilayah yang mengalami musim hujan lebih basah dari normalnya.

Daerah yang diprediksi musim hujannya akan datang lebih awal agar melakukan penyesuaian kegiatan, misalnya melakukan penanaman lebih awal, melakukan panen air hujan, dan mengisi waduk/danau yang berguna untuk periode musim kemarau yang akan datang.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah berkordinasi dengan bupati maupun wali kota untuk mengantisipasi dampak musim hujan seperti banjir dan juga longsor.

“Pemanasan global ini mempengaruhi cuaca. Saat kering ada hujan disebut kemarau basah. Saat hujan, hujannya juga tidak bisa diprediksi begitu. Perubahan iklim nyata hujannya makin aneh-aneh sekarang skala hujan makin besar,”ucap Ridwan Kamil usai kegiatan di Unpas, Kota Bandung, Senin (12/9/2022).

Dengan kondisi tersebut, pihaknya telah meresponnya dengan tiga langkah yaitu waspada, yang kedua monitor peringatan dari BMKG setiap hari terutama prakiraan cuaca sepekan untuk mengetahui potensi hujan besar di siang atau sore hari.

“Respon ketiga saya sudah arahkan para kepala daerah khususnya perkotaan untuk memperbaiki sistem infrastruktur kotanya supaya mengurangi potensi banjir dan untuk Kabupaten saya perintahkan agar waspada di area-area yang rawan terhadap longsor,”ujarnya.

Terkait kewenangan mengeluarkan siaga bencana, Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya belum sampai ke arah tersebut. Sampai saat ini, potensi bencana masih bisa termanajemen dengan baik.(*)

No Comment

0
No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.