Blog

Pengurangan dan Penanganan Sampah Harus Beriringan

KOTA BANDUNG – Gaya hidup zero waste atau nol sampah saat ini mulai banyak diterapkan masyarakat seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Siska Nirmala (35) pegiat gaya hidup zerowaste sejak 2012 dan pemilik Toko Nol Sampah yang aktif mengkampanyekan gaya hidup nol sampah dalam mendaki gunung dan juga kehidupan sehari-hari.

“Kenapa kita harus berbudaya belanja tanpa kemasan. Budaya kurangi sampah ini sangat penting karena sampah rumah tangga banyak dan itu banyaknya dari makanan, dan sampah plastik, meski 50 persen itu organik, tapi sebagian dari sampah makanan itu berkemasan,” ujarnya dalam IKP Talks #4 Sampahmu Tanggung jawabmu yang digelar Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Rabu (26/1/2022).

Menurut dia, pengurangan sampah merupakan awal dan akan mempengaruhi penanganan sampah selanjutnya. Dengan demikian pengurangan dan penanganan harus beriringan.

“Kita (warga) mengurangi sampah dari rumah, Satgas Citarum misalnya menangani sampah. Harus berjalanan beiringan, satgas di sungai nah kita di rumah tangga, level individu membantu ngurangin sampah,” ujarnya.

Terkait dengan pengurangan sampah individu, Siska sudah sangat meminimalisir sampah sejak 2012. Dia pun mengembangkan dengan membuka Toko Nol Sampah pada September 2020 dengan segala tantangannya.

“Toko Nol Sampah ini toko curah kelontong di mana kostumer bawa wadah sendiri. Saya tidak sediakan kantong keresek maupun plastik. Sistem penjualan itu offline supaya orang ke sini, ada delivery khusus Bandung area, karena saya hindari penjualan online karena ada potensi sampahnya, meski ada tapi produk tertentu, online terbatas,” tuturnya.

“Kenapa fokusnya penjualan offline? karena tadi persoalan yang ingin saya selesaikan berikan alternatif untuk warga di mana mereka sulit beli produk tanpa kemasan.
Biasanya kaldu kemasan sachet di sini bapak ibu dapat beli kaldu bumbu bahkan garam dengan sistem curah dan disesuaikan dengan kebutuhan, menghindari jumlah produk yang berlebihan. Dengan sistem ini bisa dibeli secukupnya sesuai kebutuhan,” ujarnya melanjutkan.

Siska menegaskan, kemasan penting untuk dihindari sejak awal, karena kemasan sachet sulit didaur ulang bahkan tidak bisa. Kalau pun didaur ulang akan ada sumber daya yang banyak seperti air dan listrik juga.

“Melalui toko ini saya berupaya bangun solusi, kami selain jualan produk rumah tangga tapi fokus utama ini solusi ke warga yaitu membangun belanja tanpa kemasan, akses ke produk tanpa harus mengurus sampah platik. Selain itu biar percaya diri ketika bawa wadah sendiri,”tuturnya.

Praktek-praktek seperti ini, kata dia, menambah percaya diri untuk melakukan hal yang sama untuk berbelanja di tempat lain. Membangun budaya reuse.

“Selain itu juga bisa mendorong orang jangan apa-apa harus beli baru. Dan memberikan ruang, bagi produsen atau suplier agar bisa memasarkan secara curah khususnya UMKM,” ucapnya.

Dia menambahkan, saat ini toko curah tanpa kemasan sudah muncul di Indonesia setidaknya sudah ada 50 toko di indonesia. Di Bandung saja sudah ada 4 toko kelontong curah kiloan. Di Jabar itu ada di Sukabumi, di Depok, Bogor.

“Lainnya ada di Jakarta, Yogyakarta. Memang baru 50 tapi terus bertumbuh dan meningkatkan ekonomi sirkular,” katanya.(*)

No Comment

1
No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.