Blog

Sepenggal Cerita dari Sanghyang Kenit

Beberapa kali unggahan mengenai Sanghyang Kenit muncul di laman pencarian sosial media. Lokasinya begitu memukau perpaduan aliran Sungai Citarum dan bebatuan stalaktit yang membentuk sebuah gua.

Lokasi tersebut kerap dijadikan tempat untuk foto sebelum pernikahan, video klip bahkan menjadi wisata yang menantang adrenalin menjelajahi gua dan berarung jeram.

Ketika menginjakkan kaki di Kampung Cisameng Cipanas, Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat kemarin, apa yang diunggah netizen ke sosial media sesuai dengan ekspetasi. Hamparan bebatuan dan derasnya aliran sungai menjadi penawar dari kepenatan setelah menempuh waktu satu setengah jam dari pusat Kota Bandung.

Kondisi jalan menuju Sanghyang Kenit tidak sulit untuk ditemukan dan aksesnya pun sudah mumpuni, dapat dilalui bus dengan parkiran yang cukup luas, setidaknya mampu menampung hingga seratus kendaraan. Meski saat itu tengah diratakan tanahnya.

Tak jauh dari parkiran, lokasi yang dituju pun sudah di depan mata. Pengunjung cukup berjalan beberapa menit saja.

Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanghyang Kenit Dodi Angsapibi mengatakan, Sanghyang Kenit ini merupakan aliran sungai Citarum Purba yang merupakan salah satu lokasi yang berada di DAS Citarum dan masuk dalam program Citarum Harum. Untuk aliran sungai ini hulunya berada di Cisanti Kabupaten Bandung kemudian sampai ke Waduk Cirata.

“Sanghyang Kenit sendiri menurut cerita merupakan lokasi peninggalan para dewa, Sanghyang Kenit merupakan tempat sakral yang tak kasat mata. Sanghyang “Sang” merupakan kata sandang dipergunakan untuk menghargai para leluhur jaman dahulu sedangkan “Hyang” merupakan kata Sunda itu artinya menyepi kalau sekarang itu dikenal dengan semedi,”ucap dia.

“Kalau Kenit-nya sendiri, masyarakat di sini percaya bahwa itu kambing warna hitam yang mempunyai sabuk warna putih melingkar itu domba kenit katanya begitu, yang dulu di sembelih dilokasi Sanghyang ini. Jadilah Sanghyang Kenit,”tuturnya melanjutkan.

Adapun Perbedaan Sanghyang Kenit dengan sanghyang – sanghyang lain yang ada di daerah tersebut, kata Dodi, yaitu kalau sanghyang yang di atas itu merupakan batu kali yang hitam sedangkan Sanghyang Kenit sendiri ini murupakan batuan gamping batuan putih batu kapur.

“Kalau yang di atas batuan sungai besar–besar untuk akses Sanghyang Kenit paling dekat dari parkiran dibanding dengan Sanghyang Poek, Sanghyang Heuleut itu kita perlu tracking beberapa menit untuk sampai kelokasi,”ucapnya.

Fungsi Sanghyang Kenit, lanjut dia, sebagai tempat wisata. Selain itu aliran airnya dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan sawah dan sebagaian dipakai untuk kehidupan sehari – hari seperti untuk mencuci pakaian.

Sanghyang Kenit sendiri ini dibuka untuk wisata tahun 2019 akhir. Untuk masuk ke Sanghyang Kenit ini berbayar tiket masuknya per orang Rp. 8.000 termasuk asuransi ini juga kerjasama dengan Indonesia Power yang mempunyai lahan parkir atas. Tempat ini dikeloka oleh masyarakat sekitar (Karang Taruna) yang diketuai oleh Dodo.

“Sanghyang Kenit jadi tempat wisata merupakan kolaborasi antara Indonesia Power, Satgas Ciatarum Harum dan Karang Taruna,”kata Dodi.

Menurut dia, banyak potensi atraksi yang dapat dinimati pengunjung. Aliran sungai di Sanghyang Kenit ini dibelokkan oleh PLTA.

“Jadi disini bisa dibuka oleh umum tidak bahaya, sebelum dibelokin sangat ekstrim kecuali penggiat arung jeram dan pecinta alam hanya orang -orang tertentu,”ucapnya.

Masyarat dapat melakukan arung jeram di sana dengan memanfaatkan jasa beberapa operator arung jeram seperti Kapinis dan Air Nusantara.

“Dan di sini itu menjadi pemusatan atlet arung jeram juga ada atlet Kabupaten Cianjur, atlet Kabupaten Kabupaten Bandung Barat karena disini juga dipakai tempat latihan para atlet–atlet arung jeram tersebut. Kebetulan atlet – atlet Kapinis sudah beberapa kali jaura dunia seperti Jepang, Australia, dan Ceko,”ucapnya.

Bagi masyarakat yang ingin berarung jeram, biaya perorangnya dikenakan Rp 150.000 sudah termasuk transportasi di lapangan dan makan dengan minimal 12 peserta.

“Untuk pemula sebelum arung jeram dimulai nanti ada pembelajaran terlebih dahulu bagaimana teknik yang benar dan didampingi oleh pemandu yang sudah profesional,”kata Dodi.

Selain berarung jeram, pengunjung dapat menikmati wisata susur goa sejauh 600 meter dengan berjalan dan mendokumentasikan stalaktit yang ada di dalam gua.

“Memang yang ada di Kabupaten Bandung Barat ini merupakan gua yang terpanjang. Gua ini tembus ke Sanghyang Tikoro. Jarak dari Sanghyang Kenit sampai Sanghyang Tikoro kurang lebih 600 meter dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam tapi kadang yang lama itu saat pengambilan dokumentasi karena batunya itu bagus – bagus seperti kristal yang menyala – nyala,”tuturnya.

Untuk melakukan susur gua dikenakan biaya lagi untuk keamaan berupa APD, pelampung, helm, dan penerangan sebesar Rp 150.000 dan makan dengan minimal peserta 5 orang.

“Kenapa keamananya ada pelampung karena rute dari Sanghtang Kenit – ke Sanghyang Tikoro ini melewati 2 rute yang pertama rute kering yang hanya melewati bebatuan saja untuk sampai ke Sanghyang Tikoro kemudian dilanjut rute basah yang diwajibkan untuk pelampung karena ketinggian airnya bisa mencapai dada orang dewasa,”pungkasnya.

Dodi menambahkan, animo masyarakat sendiri yang berkunjung ke Sanghyang Kenit perharinya mencapai 200 orang. Mereka datang dari berbagai daerah.

“Biasanya mereka datang hanya sekedar foto–foto di bebatuan purba, makan–makan dilokasi Sanghyang Kenit. Namun untuk satu bulan terakhir ini banyak sekali pengunjung yang berminat buat prewedding setiap harinya rata – rata ada tiga kegiatan prewedding,”ungkapnya.(*)

1 Comment

0

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.